July 31, 2021

Restoran Jepang Berusia 231 Tahun Resmi Ditutup 31 Januari 2021 Kawajin

Kawajin, restoran ikan sungai yang sudah beroperasi selama 231 tahun mengumumkan akan menutup usahanya pada tanggal 31 Januari 2021 mendatang. Restoran ini telah ada sejak zaman Edo dan berdiri tahun 1790. Diketahui menu makanan di restoran ini disukai oleh para master sastra seperti Soseki Natsume, dan dalam film "Otoko wa Tsuraiyo".

Ketika ditanyakan alasan menutup restoran, Kazuki Amamiya mengatakan pihaknya merasa kesulitan mencari untung pada masa sekarang. "Ya sudah berat dan sudah cukuplah kami berusaha sampai 231 tahun. Sulit untuk cari untung sekarang ini. Kebetulan ada pandemi corona, tetapi kami tutup bukan karena Covis 19," kata dia. Restoran "Kawajin" di Katsushika Shibata, Tokyo, ditetapkan pada jamuan makan adik Tora san (pemain film terkenal), Sakura.

"Toko ditutup karena kesulitan keuangan, semakin sulit bisnis saat ini dibandingkan masa lalu," tambahnya. Tanggal 31 Januari 2021 saat restoran Kawajin ditutup, akan menjadi restoran tertua di antara restoran yang ditutup di masa pandemi corona. Beberapa orang khawatir hal itu akan mempengaruhi suksesi budaya makanan Jepang.

Lokasi Shibamata Katsushikaku di tepi Sungai Edo yang mengalir melalui perbatasan prefektur antara Tokyo dan Chiba. Populer di kalangan wisatawan tetapi juga penduduk setempat untuk pernikahan dan upacara peringatan, tetapi penjualannya menurun belakangan ini karena penyebaran infeksi corona. "Tidak peduli seberapa banyak saya mensimulasikan, saya tidak dapat melihat tanda tanda yang cerah," kata dia.

Upayanya selama ini menggunakan sistem pendukung secara maksimal dan mengurangi tagihan listrik, tetapi itu semua ada batasnya. Penampilan pintu masuk sangat mengesankan. Sangat mengecewakan dan terasa sepi kini mendengar Kawajin akan ditutup. Di era Meiji, dimulai dengan novel Koda "Pedang Tsukiyaki", ketika menggambarkan Sungai Edo dalam karya sastra, menjadi mapan untuk menggambar pemandangan yang dilihat dari ruang tatami sungai, bukan tepinya.

Ia juga muncul dengan nama asli dalam "To Higan Pass" Soseki Natsume dan "Gaze of the Wind" Kiyohari Matsumoto. Semua cerita itu tak lepas dari pemandangan restoran Kawajin. Rilis pertama ke media "Ikesu" ke publik mengetahui restoran Kawajin dengan keistimewaannya adalah hidangan ikan mas yang dicuci di mana filletnya dikencangkan dengan air es dan ikan "koi koku" yang direbus dengan miso.

"Kesegaran adalah kehidupan ikan sungai. Jangan membuatnya kalau tidak segar. Itulah filosofi kami," tambahnya. Sakae Taniguchi, kurator berusia 59 tahun dari Divisi Pariwisata Lingkungan Katsushika, khawatir bahwa jika sungai yang mewakili hidangan ikan sungai di Tokyo menghilang, akan ada lebih sedikit kesempatan untuk menjadi akrab dengan budaya makanan Jepang. "Kami ada dengan dukungan dari komunitas dan penggemar. Sayang sekali saya tidak bisa menyambungkan tongkat estafet dari generasi sebelumnya, tetapi berakhir dengan generasi saya. Saya tidak memiliki dendam pada corona dan saya tidak menyesali keputusan tersebut," ungkapnya.

Sementara itu Forum bisnis BBB bentukan WNI di jepang memang bertekad pula melebarkan sayap semakin banyak restoran Indonesia di Jepang. WNI yang ada di Jepang dapat bergabung gratis dengan kirim email ke: [email protected] Subject: BBB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *